Jupiter, Kawan atau Lawan?
Rabu, 29 Agustus 2007 | 16:10 WIB
Selama lebih dari satu dekade, Jupiter dianggap sebagai perisai antariksa bagi bumi. Para astronom percaya planet raksasa itu menangkis asteroid dan komet menjauhi tata surya bagian dalam.
Gaya tarik gravitasi planet gas itu dipercaya bisa melontarkan semua obyek yang mengancam bumi keluar dari tata surya. Tindakan Jupiter itu melindungi saudara kecilnya, bumi, dari kemungkinan tabrakan dan membantu mendukung kehidupan di dalamnya.
Namun, peran kakak melindungi adik kecilnya itu kini dipertanyakan. Sebuah studi pendahuluan mengindikasikan bumi bisa melindungi diri sendiri dengan cara serupa--bahkan lebih baik--tanpa bantuan Jupiter.
Hasil studi itu dipresentasikan pada European Planetary Science Congress di Potsdam, Jerman, akhir pekan lalu. Disebutkan bahwa bumi akan dihantam oleh sedikitnya satu kelas obyek langit, tanpa menghiraukan ada tidaknya Jupiter di sisinya.
Temuan itu jelas masih sementara, kata Jonathan Horner, astronom di Open University di Milton Keynes yang memimpin studi tersebut. Namun, dia menambahkan, peran Jupiter sebagai pelindung ada kemungkinan terlalu berlebihan. "Kelihatannya gagasan itu tak terlalu meyakinkan," ujarnya.
Ide Jupiter sebagai pembela bumi pertama kali diusulkan oleh ilmuwan planet, George Wetherill, pada 1994. Wetherill menunjukkan bahwa massa planet yang 318 kali lebih besar dari bumi itu cukup kuat untuk melontarkan komet yang mungkin menabrak bumi keluar dari tata surya.
Beberapa ilmuwan lain juga "mendalilkan" bahwa Jupiter menapis kerumunan asteroid berbahaya dan obyek lain sehingga membuat bumi menjadi tempat tinggal yang lebih aman. Studi lain justru menyatakan bahwa perubahan orbit Jupiter pada masa lalu ada kemungkinan justru meningkatkan jumlah obyek yang bakal menabrak bumi. Sampai saat ini, kata Horner, baru sedikit upaya yang dilakukan untuk menguji mana gagasan yang benar.
Dalam sebuah upaya untuk menguji itulah Horner dan rekannya, Barrie Jones, membangun sebuah model komputer untuk menguji beberapa versi tata surya pada cluster komputer Open University. Versi pertama dengan satu Jupiter dengan massa sebenarnya, versi kedua tanpa planet itu, dan yang lainnya dengan satu planet gas raksasa dengan massa seperempat, setengah, atau tiga perempat massa Jupiter.
Sistem itu juga berisi 100 ribu centaur, benda antariksa berukuran besar dan dingin dari sabuk Kuiper. Populasi induk dari keluarga komet Jupiter ini terletak dekat Pluto.
Setelah menjalankan model-model tata surya itu selama 10 juta tahun virtual, Horner dan Jones menemukan sejumlah hasil yang mengejutkan. Bumi berpeluang lebih dari 30 persen untuk ditumbuk satu centaur dalam sebuah tata surya dengan satu planet seukuran Jupiter ketimbang sistem tanpa planet Jupiter.
Bencana lebih parah bakal dialami bumi ketika ada planet berukuran menengah di lokasi yang ditempati Jupiter. Jupiter, dalam versi yang lebih ringan, membantu menarik centaur ke dalam tata surya bagian dalam, tapi tak punya cukup gravitasi untuk melempar mereka keluar. Akibatnya, sebuah planet berukuran seperempat massa Jupiter memperbesar kemungkinan bumi ditabrak asteroid atau komet sampai 500 persen bila dibandingkan dengan sistem tanpa ada planet di situ.
Bila tak ada planet raksasa sebesar Jupiter, centaur tak akan terbelokkan ke dalam orbit melintasi bumi. Alhasil, persentase tumbukan dengan bumi pun menjadi rendah.
Sedangkan kehadiran planet sebesar massa Saturnus (sepertiga kali Jupiter) akan menghasilkan gaya tarik gravitasi yang memasukkan obyek langit ke dalam orbit yang melintasi bumi. Tapi gravitasinya tak cukup besar untuk bisa melontarkannya dari tata surya. Ini berarti akan ada lebih benda langit yang berada pada orbit melintasi bumi serta kemungkinan tabrakan lebih besar.
Meski hasil studi Horner ini cukup meyakinkan, tak semua astronom mengiyakannya. Mark Bailey, Direktur Armagh Observatory di Irlandia Utara dan pakar asteroid penabrak bumi, menyatakan Horner lalai mempertimbangkan kemampuan Jupiter menangkis benda-benda penabrak bumi dari awan Oort, sebuah awan komet raksasa yang mengelilingi tata surya.
Horner juga tak memperhitungkan faktor sumber asal datangnya tabrakan, kata Alessandro Morbidelli, astronom di Observatoire de la Cote d'Azur, di Nice, Prancis. Sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter memang ancaman paling besar, tapi ada benda langit lain yang melintasi bumi dalam tata surya.
Morbidelli menyatakan, untuk benar-benar memahami peran Jupiter sebagai pelindung, memerlukan sebuah kalkulasi bagaimana pengaruh planet itu terhadap banyak obyek yang lebih kecil. "Itu hal yang jauh lebih rumit untuk dilakukan," kata Morbidelli.
Menjawab tantangan tersebut, Horner dan timnya akan segera membuat simulasi yang melibatkan awan komet Oort dan obyek-obyek dari sabuk asteroid. Simulasi ini juga akan menghitung risiko tumbukan asteroid dengan bumi dan menguji peran posisi Jupiter dalam tata surya.
tjandra dewi | nature | sciencedaily
Menelusuri Bintang Jatuh
Rabu, 01 April 2009 | 07:32 WIB
TEMPO Interaktif, Washington: Sepintas, tak ada yang istimewa dengan batu hitam itu. Ukurannya juga hanya sedikit lebih besar daripada kerikil. Meski penampilannya biasa saja, puluhan orang rela menyisir Gurun Nubian, Sudan, yang panas demi menemukan batu kecil itu.
Batu itu memang bukan batu biasa. Batu itu datang dari luar angkasa dan memasuki Bumi sebagai sebuah bintang jatuh. Kedatangannya yang telah diketahui sebelum dia hilang terbakar menambah keistimewaan batu itu.
Ini memang pertama kali para ilmuwan berhasil mencocokkan sebuah meteorit yang ditemukan di Bumi dengan asteroid spesifik yang menjelma menjadi sebuah bola api ketika jatuh ke Bumi. Nilainya semakin tinggi karena batu antariksa itu memberi petunjuk tentang situasi alam semesta di masa lalu, ketika planet mulai terbentuk, serta sebuah gagasan untuk menghindari asteroid Armageddon di masa depan.
Oktober lalu, sejumlah astronom menemukan sebuah asteroid kecil yang tak membahayakan menghunjam Bumi sebelum benda itu berubah menjadi bintang jatuh, sesuatu yang belum pernah dapat dilakukan sebelumnya. Meteroit itu meledak di angkasa dan para ilmuwan sempat menduga tak bakal ada batu antariksa yang tersisa untuk bisa dipelajari.
Upaya pencarian tak kenal lelah yang dilakukan sejumlah mahasiswa di gurun Sudan akhirnya menemukan pecahan batu hitam dengan berat total 3,9 kilogram itu. Batu-batu kecil itu merupakan sisa asteroid 2008 TC3.
Pencarian pecahan meteorit itu dilakukan pada 6 Desember 2008, sebulan setelah bintang jatuh itu terlihat pertama kalinya. Dengan bantuan hasil pantauan observatorium dan informasi masyarakat di sekitar gurun, Peter Jenniskens dari Ames Research Center NASA dibantu 45 mahasiswa dan staf pengajar University of Khartoum menyisir gurun luas itu.
Tiap orang berdiri dengan jarak sekitar 20 meter dan mulai menelusuri gundukan pasir dan tanah liat di depannya untuk mencari batu itu. Di pengujung hari, sebuah mobil mendekati Jenniskens dan memberi tahu bahwa seorang siswa mungkin menemukan meteorit itu. "Saya ingat telah berpikir, 'Aduh, jangan lagi,'" kata Jenniskens, yang berulang kali kecewa karena batu yang dikabarkan telah ditemukan ternyata cuma batu biasa.
Meski begitu, dia tetap melompat ke mobil dan meluncur ke arah mahasiswa yang menemukan batu itu. Batu yang disodorkan kali ini adalah kepingan batu persegi kecil, sekitar satu setengah sentimeter, dengan lapisan luar yang tipis dan berkilau.
Permukaannya mirip kerak yang terbentuk setelah meteorit meleleh dan memadat.
Warna batu yang hitam gelap menandakan meteorit itu baru saja jatuh. Itu batu pertama yang mereka temukan. Hari berikutnya, tim Jenniskens menemukan lima pecahan meteorit lain setelah berjalan sejauh 8 kilometer, semuanya hitam dan bulat. Pada hari ketiga, setelah melacak area sepanjang 18 kilometer, mereka menemukan meteorit yang lebih besar, hampir 10 sentimeter. Beberapa pekan kemudian, sekelompok mahasiswa dan staf pengajar berjumlah 72 orang menemukan 32 kepingan lagi. Pada awal Maret lalu, total pecahan meteorit yang mereka kumpulkan mencapai 280 buah.
Kandungan batu itu juga mengejutkan. Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pekan lalu, dipaparkan bahwa, selain taburan berlian kecil, batu itu terdiri atas material yang belum dikenal. "Meteorit ini belum ada dalam koleksi kami, material yang benar-benar baru," kata Jenniskens, peneliti utama studi itu dari Ames Research Center NASA di California, Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, para astronom telah melobi petinggi NASA agar mengirimkan wahana antariksa robotik ke sebuah asteroid, meraup potongan batu itu, dan membawanya kembali ke Bumi agar materialnya bisa dianalisis di laboratorium. Ternyata para astronom tersebut tak perlu menunggu lagi karena serpihan asteroid itu jatuh ke pangkuan mereka, bahkan mereka bisa melacak asal batu itu dan lokasi jatuhnya.
Sebagian besar asteroid yang terbakar di atmosfer 37 kilometer di atas permukaan Bumi itu mungkin sisa bongkahan batu yang gagal membentuk planet sekitar 4,5 miliar tahun lalu. "Ini seperti menoleh kembali ke masa lampau dan masa lalu itu datang kepada kita," kata Lucy McFadden, astronom dari University of Maryland. "Penemuan ini amat penting untuk memahami tata surya kita."
Michael Zolensky, ahli mineral kosmis NASA, yang terlibat dalam studi itu, menyatakan batu tersebut memberi petunjuk tentang proses pembentukan planet. "Batu itu contoh yang bagus tentang tahap awal perkembangan planet yang gagal dan terhenti," katanya.
Tak hanya bisa menguak sejarah masa lalu, batu itu juga dapat digunakan sebagai sebuah pelajaran untuk menghadapi masa depan jika kerabat jauh asteroid itu yang berukuran raksasa mendatangi Bumi. Meledakkan asteroid seperti yang dilakukan Bruce Willis dalam film Armageddon bukanlah tindakan cerdas karena jenis asteroid itu ternyata lebih mirip gundukan pasir bergerak. "Jika kami meledakkannya, seluruh serpihannya akan bertebaran menghunjam Bumi," kata Zolensky.
Simon Worden, Direktur Ames Research Center NASA, yang juga terlibat dalam penelitian itu, menyatakan langkah yang paling efektif untuk menangani asteroid itu adalah mendorongnya menjauhi Bumi menggunakan sebuah wahana antariksa. Worden adalah salah seorang penasihat dalam program menghadapi kemungkinan ancaman tumbukan asteroid dan komet dengan Bumi. "Isu terpentingnya adalah memahami fisika obyek tersebut," kata Worden.
Di antariksa, ada beragam tipe asteroid, semuanya diklasifikasikan dari kejauhan berdasarkan warna dan panjang gelombang cahaya. Tipe asteroid yang jatuh ke Gurun Nubian disebut kelas F dan tergolong batuan yang paling porous serta rapuh. McFadden mengatakan asteroid kelas F tidaklah membahayakan Bumi, sekalipun ukurannya besar karena sifatnya yang porous sehingga batu itu akan pecah sebelum menghantam permukaan Bumi.
Meteorit ini, menurut Zolensky, penuh dengan kandungan logam, semisal besi dan nikel, serta bahan organik, seperti grafit. Temuan yang paling menarik adalah asteroid itu memiliki nanodiamond atau berlian berukuran nanometer. Berlian itu terbentuk oleh benturan dan tekanan tinggi di antariksa. Letak berlian yang tersebar di seluruh bagian batu antariksa tersebut membuat meteorit itu berkilauan seperti geodes.
TJANDRA DEWI | AP | NATURE | NASA
lmuwan China Buat Lubang Hitam
(istemewa)
INILAH.COM, Jakarta- Peneliti yang berteori bagaimana merancang lubang hitam, tutup buku awal tahun ini. Namun dua ilmuwan China berambisi membangunnya dengan bahan sama seperti untuk jubah tembus pandang.
Model teoritis lubang hitam itu meniru properti kosmologis yang secara intens membelokkan ruang waktu di sekitarnya dan menyebabkan setiap materi atau radiasi terdekat mengikuti ruang waktu melengkung ke dalam.
Model alat dari China terdiri dari sebuah silinder dan terbuat dari irisan bahan khusus yang mempengaruhi medan listrik. Saat sinar cahaya mendekat ke perangkat, mereka membelokan ke pusat, di mana permitivitas (karakteristik yang menggambarkan bagaimana materi mempengaruhi medan listrik) sedemikian rupa sehingga cahaya tidak dapat melepaskan diri. Perangkat kemudian mengubah cahaya menjadi energi panas.
Untuk mempengaruhi cahaya, lubang hitam menggunakan apa yang disebut sebagai bahan meta yang "membelokkan cahaya" serta meniru sifat-sifat lubang hitam kosmologis.
Bahan meta dapat membelokkan gelombang mikro di sekitar obyek tiga dimensi, sehingga membuatnya tidak terlihat oleh gelombang. Peneliti itu mengatakan bahan-bahan tersebut dapat menjadi awal dari pembentukan Jubah Gaib.[ito]
Penemuan Planet Baru Berlimpah Air
Dinamai GJ 1214b, ukuran planet ini hanya sekitar 2,7 kali ukuran Planet Bumi dengan massa kira-kira 6,5 kali lebih berat dari Bumi.
Berdasarkan berat jenisnya, para ilmuwan mengira GJ 1214b mengandung 3/4 air likuid dengan inti padat dari besi dan nikel serta atmosfer hidrogen dan helium yang merupakan mirip dengan Bumi.
Namun dalam banyak cara lainnya, planet ini adalah "binatang kejam yang sangat berbeda" dari Bumi yang kita tinggali, kata para ilmuwan.
"Pada dasarnya ini adalah satu samudera luas," kata kepala peneliti David Charbonneau dari Pusat Astrofisika Smithsonian, Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts.
"(Di planet ini) tidak ada satu pun benua yang mengambang di atas atau menyeruak dari air."
Lebih dari itu, GJ 1214b lebih panas dibandingkan Bumi dan atmosfernya sepuluh kali lebih tebal dibandingkan planet kita, kata para peneliti.
Hal ini mungkin membuat apapun sulit untuk hidup seperti selama ini kita ketahui. Untuk para pemula, tekanan atmosfer terhadap permukaan planet itu besar sekali dan cahaya yang sangat sedikit sulit menembus kabut demi mencapai samudera planet tersebut.
Planet baru menyerupai Bumi ini tetaplah sangat asing.
Planet Super-Earth baru itu ditemukan dengan menggunakan proyek MEarth, satu unit perangkat teleskop kecil berbasis di Bumi yang digunakan untuk mendeteksi perubahan dari menit ke menit dari kekuatan cahaya bintang-bintang merah nan redup yang disebut dengan M dwarfs (bintang cebol).
Kelipan periodikv cahaya bintang bisa disebabkan oleh planet-planet yang secara terpisah transit atau mengitari bintang-bintangnya. Karena bintang cebol M dwarfs lebih buram ketimbang bintang-bintang seperti Matahari, maka menjadi lebih mudah menjejak pengurangan kekuatan cahaya yang disebabkan oleh planet-planet seukuran Bumi yang lebih kecil massanya.
Kendati GJ 1214b tidak langsung terlihat, perubahan pasti dalam cahaya bintang karena jejak perjalanannya, memungkinkan para astronom bisa menakar ukuran dan massa planet tersebut, yang nantinya menawarkan petunjuk-petunjuk terhadap komposisi planet itu.
Dan karena dunia tirta begitu dekat ke Bumi, demikian Charbonneau, teleskop optik yang berbasis di antariksa seperti Hubble atau Kepler bisa seharian digunakan untuk mengendus kandungan kimia pasti dari atmosfer planet serupa Bumi itu.
"Sejumlah cahaya dari bintang cebol itu menembus atmosfer planet serupa Bumi tersebut (seperti cahaya Matahari menembus Bumi), dan menempel pada fitur-fitur atom dan molekul apa saja yang ada," kata Charbonneau.
Secara keseluruhan, penemuan ini adalah "pencapaian yang menjadi tonggak" yang bisa menutup kesenjangan ilmiah dalam planetologi, kata Greg Laughin, ilmuwan astrofisika pada Universitas California, Santa Cruz, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.
"Saya selalu membayangkan seperti apakah bentuk planet bermassa enam kali dari Bumi itu. Kini kita mengetahuinya. Planet itu benar-benar sangat berbeda dari sistem tata surya kita," kata Laughlin. (*ek)
JOHNY SETIAWAN, Penemu Planet Pertama dan Bintang Muda
Heidelberg- Jerman, Johny Setiawan membuat mata dunia tercengang dengan penemuan planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae.
PENEMUAN itu sangat spektakuler karena dari 270 planet di luar tata surya yang telah ditemukan astronom dalam 12 tahun terakhir, tak satu pun planet yang muncul dari bintang muda.
Johny yang memimpin tim peneliti di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Heidelberg, Jerman itu menemukan planet pertama yang disebut TW Hydrae b dan bintang baru TW Hydrae dengan menggunakan teleskop spektrograf F EROS sepanjang 2,2 meter di La Silla Observatory, Chile.
”Ketika kami mengamati kecepatan lingkaran gas TW Hydrae, kami mendeteksi sebuah variasi periodik yang tidak berasal dari aktivitas TW Hydrae. Kami mengamati kehadiran sebuah planet baru (TW Hydrae b),” ungkap Johny kepada SINDO tadi malam. Planet baru yang ditemukan itu memiliki bobot sekitar sepuluh kali berat Planet Yupiter, planet terbesar dalam Sistem Tata Surya.
Planet baru itu mengorbiti TW Hydrae dalam waktu 3,56 hari dengan jarak sekitar 6 juta kilometer. Ini dapat disamakan dengan 4% jarak antara Matahari dan Bumi. Dengan penemuan tim yang dipimpin Johny tersebut, peneliti dapat membuat kesimpulan penting tentang waktu pembentukan planet.Sejumlah pertanyaan pelik yang selama ini dihadapi peneliti, seperti bagaimana dan di mana sistem planet terbentuk?
Bagaimana arsitektur planet? Seberapa lama proses pembentukannya? Bagaimana posisi planet-planet seperti bumi di Galaksi Bima Sakti? Akan segera terjawab. Johny menyadari pentingnya penemuannya tersebut. Dia menjelaskan, bagaimana planet yang baru berumur 8–10 juta tahun (sekitar 1/500 tahun umur Matahari) itu sebagai sebuah kejutan di Tahun Baru ini.
Peneliti lain dalam tim Johny menjelaskan bahwa pihaknya tidak salah menyimpulkan bahwa planet baru itu memang muncul. ”Untuk menghindari salah tafsir atas data, kami telah menginvestigasi seluruh aktivitas yang mengindikasikan TW Hydrae b. Tapi karakteristik planet baru ini sangat berbeda dari perputaran gas di lingkaran utama bintang baru itu. Mereka lebih stabil dan memiliki periode yang pendek,” papar Ralf Launhardt, koordinator program penelitian planet luar tata surya di sekeliling bintang-bintang muda.
Planet terbentuk dari gas dan debu dalam sebuah cakram yang berputar pendek setelah kelahiran sebuah bintang. Tidak keseluruhan proses terbentuknya planet baru ini dipahami pakar. Meski demikian, penemuan TW Hydrae b menyediakan teori baru tentang pembentukan planet.
Berdasarkan studi statistik, Johny memperkirakan rata-rata keadaan cakram gas dan debu itu akan membentuk planet dalam waktu maksimal 10–30 juta tahun. Johny menandaskan, penemuan TW Hydrae b merupakan bukti langsung bahwa pembentukan sebuah planet raksasa tidak bisa lebih lama dari usia bintang yang diorbitinya, 8–10 juta tahun.
”Ini merupakan penemuan paling luar biasa dan spektakuler dalam studi planet-planet di luar tata surya. Untuk pertama kali, kita telah menemukan langsung bahwa planet-planet terbentuk dalam lingkaran cakram. Penemuan TW Hydrae b membuka jalan untuk mengaitkan evaluasi lingkaran cakram dengan proses pembentukan dan migrasi planet,” papar Thomas Henning, direktur Planet and Star Formation Department di MPIA.
Johny memaparkan, peneliti di MPIA kini sedang mengembangkan peralatan generasi baru untuk mendeteksi planet-planet dengan teknik berbeda. Misalnya dengan instrumen baru astrometri untuk mengamati gerakan sebuah bintang saat melintasi planet di antariksa, serta transit fotometri untuk mengamati planet saat bergerak di depan bintang.
”Kita akan lebih memahami formasi planet saat kita mengetahui keanekaragaman sistem planet. Kita akan mampu menempatkan Sistem Tata Surya kita dalam sebuah konteks universal. Akhirnya, tentu di masa depan kita dapat menjawab pertanyaan: ’apakah kita sendirian di Semesta?” ungkap Johny yang baru tiba di Heidelberg setelah pekan lalu berlibur di Jakarta.
Johny merupakan warga Indonesia yang tinggal di Kota Heidelberg, Jerman. Sebagai seorang astronom yang sedang melakukan riset post doctoral,pria kelahiran 16 Agustus 1974 di Jakarta itu mengaku telah memiliki ketertarikan tentang perbintangan sejak kecil. Alumnus SD St.Fransiskus I dan SMP Immaculata, Marsudirini, itu kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Fons Vitae I, Marsudirini, Jakarta.
Setamat SMA,pada 1992–1993,Johny mengenyam pendidikan pra-universitas di Studienkolleg Heidelberg,Jerman. Johny kemudian mempelajari Fisika di Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman, dan mengambil Master di Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg. Disertasinya di Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg, berjudul Radial velocity variation of G and K Giants.
Sejak Juni 2003, Johny bekerja sebagai peneliti post-doctoral di MPIA, di Department of Planet and Star Formation (Prof. Dr.Thomas Henning). Wilayah risetnya saat ini meliputi planet-planet di luar tata surya di sekitar bintangbintang muda dan bintang-bintang yang sedang terbentuk. Selain itu,Johny yang tinggal di Bintaro Sektor IX ini juga meneliti atmosfer yang berperan sebagai bintang.
”Secara khusus saya bekerja di sejumlah proyek seperti ESPRI (Pencarian Planet dengan PRIMA/ Phase-Referenced Imaging and Micro-arcsecond Astrometry). Di sini saya menyeleksi dan mengamati karakteristik bintangbintang untuk program pencarian planet,”ungkapnya. Sejak 2003, Johny memimpin penelitian di observasi bintang dan planet ESO La Silla. ”Kami telah sukses mendeteksi sejumlah planet yang saling berhubungan,” ungkap Johny yang memiliki kemampuan bahwa Jerman, Inggris, dan Spanyol.
Di tengah kesibukannya meneliti, Johny meluangkan waktu untuk menyalurkan sejumlah hobi yang beragam, mulai memasak, jalan-jalan, olahraga renang dan fitnes, melukis dengan akrilik, serta bermain piano.
Astronom Klaim Segera Menemukan Planet Mirip Bumi
Jum'at, 08 Januari 2010 | 10:33 WIB
TEMPO Interaktif, Washington - Para astronom mengatakan bahwa mereka berada di ambang penemuan planet seperti Bumi yang mengorbit bintang lain. Penemuan itu menjadi langkah kunci dalam menentukan apakah kita sendirian di alam semesta.Seorang pejabat NASA dan ilmuwan terkemuka lainnya mengatakan bahwa dalam waktu empat atau lima tahun mereka seharusnya sudah menemukan planet mirip Bumi pertama di mana kehidupan bisa berkembang, atau mungkin sudah berkembang. Sebuah planet yang mendekati ukuran Bumi bahkan bisa ditemukan tahun ini jika petunjuk awal dari sebuah teleskop ruang angkasa berjalan dengan baik.
Pada konferensi tahunan American Astronomical Society minggu ini, setiap penemuan yang melibatkan apa yang disebut "exoplanets", yang berada di luar tata surya kita, menunjukkan kesimpulan yang sama: Planet tenang seperti Bumi dimana kehidupan bisa berkembang kemungkinan berlimpah, di samping kejadian ledakan bintang, kehancuran lubang hitam dan bertabrakannya galaksi.
Teleskop Kepler baru NASA dan berbagai penelitian baru menjadi bahasan hangat di konvensi itu. "Pertanyaan mendasar adalah: Apakah kita sendirian? Untuk pertama kalinya, ada sebuah optimisme bahwa suatu saat dalam kehidupan kita, kita akan sampai ke dasar pertanyaan," kata Simon "Pete" Worden, astronom yang mengepalai Pusat Riset Ames NASA. "Jika saya seorang petaruh, saya berani bertaruh kita tidak sendirian, ada banyak kehidupan."
Bahkan Gereja Katolik Roma telah mengadakan konferensi ilmiah tentang prospek kehidupan di luar Bumi, termasuk pertemuan November lalu.
"Ini adalah pertanyaan besar yang merefleksikan makna umat manusia di alam semesta," kata direktur Observatorium Vatikan Pendeta Jose Funes, pada hari Rabu dalam sebuah wawancara di konferensi ini.
Worden mengatakan kepada The Associated Press: "Saya pasti akan mengharapkan dalam empat atau lima tahun kita akan memiliki sebuah planet berukuran Bumi di zona yang dihuni."
Worden menjalankan teleskop Kepler, yang membuat sensus planet dari sebagian kecil galaksi.
Tidak seperti teleskop luar angkasa Hubble, yang merupakan instrumen umum, Kepler adalah teleskop khusus hanya untuk berburu planet. Instrumen utamanya adalah meteran cahaya yang mengukur kecerahan lebih dari 100 ribu bintang secara bersamaan, mengawasi apa yang menyebabkan bintang meredup. Peredupan itu sering kali akibat sebuah planet lewat di depan bintang.
Setiap planet yang dapat mendukung kehidupan hampir pasti berbatu, bukannya gas. Dan planet harus berada di lokasi yang tepat. Planet yang terlalu dekat dengan bintang akan menjadi terlalu panas, dan yang terlalu jauh akan menjadi terlalu dingin.
AP | EZ
0 komentar:
Posting Komentar