Tiga Astronot ISS Tiba Kembali di Bumi
Dahono Fitrianto | Marcus Suprihadi | Selasa, 22 November 2011 | 22:02 WIB
Dibaca: 5432
|
Share:
SPACE ADVENTURES Roket Soyuz.
MOSKWA, KOMPAS.com- Tiga astronot yang telah menghabiskan 167 hari atau lebih dari lima bulan di dalam Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), tiba kembali dengan selamat di Bumi, Selasa (22/11/2011) pagi waktu setempat, di sebuah stepa bersalju di Kazakhstan. Kepulangan mereka membuktikan tenologi kapsul antariksa Soyuz buatan Rusia masih bisa diandalkan untuk perjalanan ke luar angkasa.
Astronot Mike Fossum dari AS, Satoshi Furukawa dari Jepang, dan Sergei Volkov dari Rusia dilaporkan mendarat tepat waktu dan tepat sasaran di kawasan Arkalyk, Kazakhstan, beberapa saat sebelum matahari terbit atau pukul 02.26 GMT (09.26 WIB).
Televisi nasional Rusia menyiarkan para astronot dikeluarkan satu persatu dari dalam kapsul pendarat Soyuz dan langsung digendong ke tempat perlindungan sementara untuk melindungi mereka dari suhu ekstrem minus 15 derajat celsius di lokasi pendaratan.
Mereka kemudian diterbangkan dengan helikopter ke kota Kostanay, Kazakhstan, untuk pesta perpisahan setelah selama hampir setengah tahun selalu bersama-sama di dalam ISS. Fossum dan Furukawa akan diterbangkan langsung ke AS, sementara Volkov pulang ke Moskwa.
Kepulangan mereka dengan selamat menggunakan Soyuz membuktikan teknologi wahana anatriksa yang sudah berusia lebih dari 40 tahun itu masih bisa diandalkan untuk perjalanan ke luar angkasa. Sejak AS menghentikan program pesawat ulang alik-nya, pesawat Soyuz dari Rusia menjadi satu-satunya wahana yang diandalkan untuk mengantarjemput astronot ke ISS.
Keandalan wahana antariksa Rusia sempat diragukan setelah pesawat Progress, yang membawa perbekalan untuk ISS, jatuh di Siberia beberapa menit setelah diluncurkan, Agustus. Akibat kecelakaan itu, penerbangan Soyuz untuk menjemput Fossum dan kawan-kawan tertunda enam hari.
Pada 14 November lalu, Soyuz yang membawa kru pengganti mereka meluncur dengan sukses dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan. Mereka membawa astronot Dan Burbank dari AS dan Anton Shkaplerov dan Anatoly Ivanishin dari Rusia, dan menjemput Fossum dan rekan-rekannya kembali ke Bumi.
Soyuz akan kembali meluncur pada 21 Desember nanti, dengan membawa tiga kru tambahan ke ISS.

0

Jurang 20 Km di Asteroid Vesta

  Rabu, 30 November 2011 | 09:58 WIB
Dibaca: 20156
|
Share:

NASA Jurang di Asteroid Vesta (dalam lingkaran merah)

Wahana antariksa Dawn yang diluncurkan oleh NASA pada 27 September 2007 berhasil menguak misteri asteroid Vesta, salah satu asteroid terbesar di tata surya dengan diameter 515 km.

Setelah berhasil menguak adanya gunung setinggi 24 kilometer di kutub selatan Vesta yang lalu dinobatkan sebagai gunung kedua tertinggi di tata surya, kini wahana tersebut menguak adanya jurang dalam di asteroid itu.

Jurang ini begitu dalam sehingga jika diukur dari permukaan terendah ke tertinggi, kedalamannya adalah 2,5 kali tinggi Gunung Everest, atau sekitar 20 km.

Analisis NASA menunjukkan bahwa jurang tersebut mungkin tercipta karena adanya tanah longsor. Karena gravitasi Vesta sangat kecil, hanya 2 persen dari Bumi, maka diduga longsor itu terjadi secara perlahan.

Waktu terjadinya longsor yang mengakibatkan jurang di asteroid Vesta belum diketahui secara pasti. Namun, membandingkan dengan kawah-kawah di sekitar jurang, kemungkinan jurang ini sudah tua.

Penemuan jurang ini adalah salah satu penemuan Dawn yang mengagumkan. Bulan lalu, wahana Dawn juga berhasil menemukan adanya gunung setinggi 24 kilometer, dan menjadi gunung tertinggi kedua di tata surya.

Wahana Dawn sudah membuntuti Vesta selama 4 tahun. Tahun depan, misi Dawn mempelajari Vesta akan berakhir. Mulai tahun depan, wahana Dawn akan mempelajari Ceres.

0

Kepler Bakal Temukan 10.000 Planet pada tahun 2020


Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Rabu, 2 Februari 2011 | 18:14 WIB
Dibaca: 6204
|
Share:
NASA/Kepler Mission Planet Kepler menurut rekaan artis
KOMPAS.com - Wahana ruang angkasa Kepler diperkirakan dapat menemukan minimal 10.000 planet dalam satu dekade mendatang. Demikian dikatakan Geoff Marcy, seorang astronom University of California, Berkeley yang terlibat dalam misi perburuan planet dengan wahana tersebut dalam pertemuan American Astronomical Society bulan lalu di Seattle, AS.
"Dalam beberapa tahun mendatang, Kepler akan menemukan ribuan planet. Akan ada misi pengikut Kepler dari Eropa, amerika atau keduanya. Saya bertaruh, Pada tahun 2020, astronom akan menemukan 10.000 planet. Sementara pada tahun 2030, mungkin terdapat 20.000 atau 30.000 planet lain juga akan ditemukan," ujar Marcy seperti dilansir Space.com
Perkiraan temuan planet baru bakal begitu banyak karena Kepler dilengkapi teknologi canggih. Selain itu, ia juga menyebut bahwa peluang ditemukannya banyak planet baru juga didukung kerja keras para astronom yang sangat inovatif.
Meski demikian, Marcy menuturkan bahwa jumlha penemuan baru bukan yang terpenting. Lebih penting lagi adalah kualitas planet yang ditemukan. Yang dimaksudnya dengan kualitas planet adalah berkaitan dengan misi mencari kehidupan di luar Bumi. "Kami ingin planet seukuran Bumi, berada pada zona yang bisa ditinggali," paparnya.
Penemuan planet yang seukuran bumi dan berada pada zona yang bisa ditinggali akan menguak tabir kemungkinan adanya kehidupan lain di luar angkasa. Terlebih juga akan menggali kemungkinan manusia untuk hidup di tempat tersebut.
Kepler seperti diberitakan sebelumnya telah menemukan planet Kepler 10-b. Planet tersebut merupakan planet ekstrasurya yang seukuran Bumi dengan diameter 1,4 kali ukuran Bumi. Meski demikian, kemungkinan tidak dapat ditinggali manusia karena terlalu dekat dengan bintangnya.
Sejauh ini, selain menemukan Kepler 10-b, kabarnya Kepler juga telah menemukan planet alien lain. Hari ini pukul 13.00 EST atau Kamis (3/2/2011) besok pukul 01.00 WIB, NASA akan menggelar konferensi yang mengumumkan planet alien baru temuan Kepler.

0

Mungkinkah Bumi Disedot Black Hole

Beberapa waktu lalu ada kekhawatiran penelitian LHC (Large Hadron Collider) bisa menciptakan lubang hitam di Bumi yang membahayakan manusia. Mungkinkah black hole bisa terjadi/muncul di Bumi? Black hole atau lubang hitam tidak bisa terjadi atau muncul di bumi, dan juga tidak bisa muncul di tata surya kita ataupun wilayah dengan jarak kurang dari 500 tahun cahaya dari tata surya kita. Sebabnya, tidak adanya benda-benda bermassa besar yang berpotensi menjadi stellar black hole (lubang hitam berasal dari bintang).
Lubang hitam biasanya berada di pusat-pusat galaksi. Misalnya di bagian pusat galaksi kita, ada lubang hitam (galactic black hole) yang mempunyai masa beberapa juta kali massa matahari. Tata surya kita letaknya jauh dari pusat galaksi. Seandainya kita bisa memproduksi energi sangat tinggi yang memungkinkan terbentuk black hole, maka black hole yang terbentuk adalah amat sangat kecil dan sangat tidak stabil - yang artinya sama sekali tidak ada pengaruhnya.

0

Chandra Temukan Pasangan Lubang Hitam Terdekat


Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 1 September 2011 | 14:11 WIB
Dibaca: 13944
|
Share:
NASA Astronom yang menggunakan teleskop Chandra X-ray menemukan pasangan lubang hitam di sebuah galaksi spiral yang mirip galaksi kita. Dengan jarak 160 juta tahun cahaya, ini adalah pasangan lubang hitam raksasa terdekat dari Bumi.
KOMPAS.com — Teleskop Chandra X Ray yang digunakan oleh para astronom berhasil menemukan pasangan lubang hitam supermasif di galaksi spiral seperti Bimasakti. Terletak pada jarak 160 juta tahun cahaya, pasangan lubang hitam tersebut juga merupakan pasangan lubang hitam terdekat dari Bumi.
Galaksi tempat pasangan lubang hitam tersebut bernaung bernama NGC 3393. Pasangan lubang hitam hanya terpisah sejauh 490 tahun cahaya. Para astronom berpendapat bahwa pasangan lubang hitam itu adalah hasil penggabungan miliaran tahun lalu di antara dua galaksi berjarak dekat dan berbeda massa.
"Jika dua galaksi tersebut tidak cukup dekat, maka kita tak memiliki kesempatan untuk memisahkan dua lubang hitam itu seperti yang kita lakukan sekarang," kata Pepi Fabbiano dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics seperti dikutip Physorg, Rabu (31/8/2011).
Fabbiano, yang memimpin studi yang dipublikasikan di Nature pada minggu lalu itu, menambahkan, "Karena galaksi ini tepat di depan hidung kita berdasarkan standar kosmik, kita menjadi penasaran ada berapa banyak pasangan lubang hitam yang belum ditemukan atau terlewat."
Observasi sebelumnya dengan sinar-X dan sinar dengan panjang gelombang berbeda mengindikasikan adanya lubang hitam di galaksi NGC 3393. Namun, dengan Chandra X Ray, akhirnya didapatkan bahwa sebenarnya ada dua lubang hitam. Dua lubang hitam tersebut sama-sama sedang tumbuh.
Astronom mengungkapkan, jika dua galaksi spiral bergabung, pasangan lubang hitam dan galaksi dengan wilayah pembentukan bintang yang intens seharusnya terbentuk. Contohnya adalah yang terjadi pada galaksi NGC 6240 pada jarak 330 juta tahun cahaya.
Namun, astronom melihat bahwa NGC 3393 adalah galaksi spiral yang sangat teratur dengan bagian tengah terdiri dari bintang-bintang tua. Menurut para astronom, karakteristik ini tak biasa ditemukan pada galaksi yang memiliki pasangan lubang hitam.
Astronom juga mengatakan bahwa NGC 3393 mungkin juga merupakan galaksi pertama hasil merger antara galaksi besar dan kecil, disebut minor merger. Menurut teori, minor merger adalah cara paling umum dalam pembentukan pasangan galaksi. Meski demikian, selama ini buktinya sulit ditemukan.
Astronom mengatakan, jika pasangan lubang hitam memang hasil minor merger, maka lubang hitam yang satu pasti memiliki massa lebih kecil sebelum galaksinya melakukan merger. Estimasi dari ukuran lubang hitam belum bisa dilakukan saat ini.
Penemuan NGC 3393 memiliki kesamaan dengan kemungkinan penemuan pasangan lubang hitam supermasif pada jarak 2 miliar tahun cahaya dari Bumi oleh Julia Comerford dari University of Texas. Pasangan lubang hitam itu terdapat di galaksi yang tak memiliki fitur spiral seperti NGC 3393.
Guido Risaliti, yang juga terlibat penelitian ini, mengatakan, "Tabrakan dan merger adalah salah satu cara terpenting bagi galaksi dan lubang hitam untuk tumbuh. Mencari pasangan lubang hitam di galaksi spiral adalah jalan keluar untuk menjawab bagaimana ini bisa terjadi."

0

NASA Temukan 54 Planet Serupa Bumi

Perburuan planet-planet ekstrasurya atau di luar tata surya yang mirip Bumi dan mendukung kehidupan terus dilakukan. Teleskop luar angkasa Kepler milik Badan Antariksa AS (NASA) dirancang secara khusus untuk mencari planet-planet seperti itu.

"Hanya dalam waktu setahun meneropong sebagian kecil galaksi kita, Kepler berhasil menemukan 1.235 planet di luar tata surya kita. Yang mengejutkan, 54 di antaranya kemungkinan dapat dihuni manusia, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin," kata William Borucki, kepala ilmuwan yang terlibat dalam misi Kepler, Rabu (2/2/2011) malam waktu AS.

Dari 1.235 planet baru yang terdeteksi, 68 di antaranya seukuran Bumi, 288 super Bumi, 662 seukuran Neptunus, 165 seukuran Jupiter, dan 19 lebih besar dari Jupiter. Sementara dari 54 planet yang ditemukan di zona orbit yang mendukung kehidupan, 5 di antaranya seukuran Bumi dan sisanya antara super Bumi atau dua kali ukuran Bumi hingga seukuran Jupiter.

"Kami mulai dari nol ke 68 kandidat planet seukuran Bumi dan dari nol hingga 54 kandidat di zona yang mendukung kehidupan, sebuah wilayah di mana air dalam bentuk cair mungkin ada di permukaan planet. Beberapa kandidat mungkin juga memiliki bulan dengan air dalam bentuk cair," jelas Borucki.

Penemuan planet yang mendukung kehidupan sebanyak 54 buah merupakan jumlah yang sangat banyak. Sejauh ini bahkan bisa dikatakan belum pernah ditemukan planet ekstrasurya yang benar-benar dapat dipastikan mirip Bumi dan kemungkinan dapat dihuni. Kalaupun mengandung senyawa organik dan zat-zat yang dibutuhkan untuk kehidupan, planet yang ditemukan biasanya terlalu jauh atau terlalu dekat bintangnya.

Meski disebut mendukung kehidupan, planet-planet tersebut belum dapat dipastikan ada kehidupan di sana saat ini seperti Mars misalnya. Kalaupun ada kehidupan mungkin berupa jasad renik seperti bakteri atau jenis kehidupan yang belum terbayangkan saat ini. Pekerjaan rumah berikutnya yang masih harus dilakukan para ilmuwan adalah menentukan ukuran planet-planet tersebut, komposisi, suhu permukaan, jarak dari bintangnya, kondisi atmosfer, dan kemungkinan adanya air serta senyawa karbon.

Semua planet asing tersebut ditemukan di galaksi Bima Sakti. Namun, jaraknya terlalu jauh dari Bumi dan mustahil mengirim misi ke sana. Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, perlu jutaan tahun untuk berkunjung ke planet-planet tersebut.

"Cucu-cucu kita yang akan memutuskan apa langkah selanjutnya. Apakah mereka akan pergi ke sana? Apakah mereka hanya akan mengirim robot ke sana?" kata Borucki.

0

Dawn Buka Tabir Asteroid Vesta

 | Selasa, 2 Agustus 2011 | 20:48 WIB
Dibaca: 1172
|
Share:
NASA
PASADENA, KOMPAS.com - Wahana antariksa Dawn yang diluncurkan pada tahun 2007 berhasil membuka cadar asteroid Vesta, mengungkap wajah sebenarnya dari asteroid berusia sekitar 4,65 juta tahun tersebut.
Dalam diskusi panel di jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California yang digelar Senin (1/8/2011) kemarin, tim ilmuwan yang terlibat misi ini mengungkap fakta-fakta yang berhasil dikuak Dawn.
Holger Sierks dari Max Planck Society, Jerman, mengatakan bahwa kutub utara dari asteroid itu saja memiliki rupa yang sangat kaya. "Ini akan membuat tim ilmuwan sibuk selama bertahun-tahun," katanya.
Belahan utara dari asteroid Vesta memiliki lebih banyak kawah. Sementara, belahan selatan yang lebih halus memiliki kawah lebar dengan satu bentukan puncak gunung di tengahnya.
Chris Russel, Kepala Investigasi Dawn, mengatakan, "kawah pada asteroid memiliki fitur yang tidak kami duga. Sekarang, kami tengah mempelajari proses yang mengakibatkan pembentukannya."
Diperkirakan, Vesta pernah mengalami tumbukan dengan benda langit lainnya. Ini dikuatkan dengan adanya bentukan pegunungan sempurna di ekuatornya, sesuatu yang belum pernah dilihat ilmuwan sebelumnya.
Seluruh fakta tersebut didapatkan saat Dawn memasuki orbit Vesta bulan lalu dan mendekatinya dengan kecepatan 60 mph, kecepatan yang cukup pelan untuk sebuah wahana antariksa.
Selanjutnya, Vesta akan tetap melanjutkan mengorbit Vesta selama satu tahun. Dengan perubahan lokasi dan pola orbiotal, Vesta diharapkan bisa mengungkap fakta lain tentang Vesta.
Vesta hanyalah salah satu tujuan Dawn dala memecahkan misteri semesta. Setelah Vesta, Dawn direncanakan menuju Ceres dan ditargetkan sampai pada tahun 2015.