0

Yuk, Tonton Hujan Meteor Geminid


| Senin, 12 Desember 2011 | 17:36 WIB

|
Share:
NASA Hujan Meteor Geminids
JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan meteor Geminid yang dimulai 7-17 Desember 2011 akan memuncak Selasa (13/12/2011) malam hingga Rabu dini hari. Yuk, tonton hujan meteor bersama-sama, alias melihatnya ramai-ramai.
Bagaimana cara melihatnya? Pertama-tama, cari tempat yang terbaik. Syaratnya adalah lapang dan minim bangunan yang menghalangi pandangan. Kedua, relatif bebas dari polusi cahaya. Contoh, wilayah pantai.
Jangan lupa menyiapkan jaket atau baju hangat, makanan yang cukup, air panas dan minuman kesukaan. Ini diperlukan karena pengamatan akan berlangsung malam hari. Sebaiknya tak menonton sendiri agar lebih seru.
Hujan meteor Geminid adalah salah satu hujan meteor teramai. Jumlah meteor per jamnya bisa 100-120 buah meteor. Kalau punya kamera yang bagus mungkin bisa digunakan untuk mengabadikannya.
Hujan meteor Geminid sebenarnya sudah bisa disaksikan ketika langit gelap. Untuk melihatnya, bisa melihat ke arah timur. Namun, waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah menjelang tengah malam, mulai sekitar pukul 21.00 WIB. Caranya, cukup melihat ke atas. Hujan meteor bisa disaksikan tanpa alat bantu.
Bersama hujan meteor, bisa disaksikan juga 3 planet, Jupiter, Mars dan Saturnus. Planet akan sebagai titik cahaya kecil. Perbedaannya dengan bintang, planet takkan tampak berkedip.
Jupiter bisa disaksikan pada malam hari, akan terlihat cukup tinggi di langit, sedikit ke barat. Sementara, Mars dan Saturnus bisa disaksikan dini hari saat hujan meteor terjadi.
Jupiter akan tampak berwarna putih. Sementara, Mars akan tampak berwarna merah. Tanpa alat bantu, Saturnus hanya akan tampak sebagai titik cahaya kecil. Teleskop bisa digunakan untuk menyaksikan cincin Saturnus.
Hujan meteor Geminid berbeda dengan hujan meteor lainnya karena berasal dari pecahan asteroid. Nama asteroidnya adalah Pantheon. Asteroid ini mengorbit Matahari dan meninggalkan debu ketika bergerak. Ketika Bumi memasuki wilayah debu, atmosfer Bumi akan membakarnya.
Siap menonton hujan meteor Geminids besok? Berharap saja mendung dan hujan yang sempat menghalangi pengamatan gerhana bulan total 10 Desember 2011 lalu tak terjadi. Pastikan pula mengamati di waktu yang pas sehingga cahaya Bulan takkan "mengaburkan" meteor yang melesat di atmosfer.

0

Asteroid Sepanjang 50 Km Dekati Bumi

Senin, 09/03/2009 09:49 WIB
Foto: AFP
Jakarta - Sebuah asteroid sepanjang 50 km mendekati bumi pada hari ini, Senin (9/3/2009). Posisi asteroid tersebut lebih dekat daripada jarak bulan ke bumi.

"Jaraknya kurang dari 74.000 km, 2 kali dari jarak satelit geo stasioner," kata Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin kepada detikcom, Senin (9/3/2009).

Namun Thomas meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Asteroid tersebut masih berada dalam jarak aman.

"Melintas saja karena dekat, setelah itu menjauh lagi. Kemungkinan tidak akan bertubrukan dalam waktu seabad lagi," jelasnya.

Peristiwa tubrukan asteroid, kata Thomas, sebelumnya pernah terjadi 65 juta tahun yang lalu. Pada saat itu, tumbukan terjadi di Semenanjung Yukatan, Meksiko, yang diduga menjadi penyebab musnahnya dinosaurus dari muka bumi.

"Yang kedua seabad lalu, ada pecahan komet ENCKE yang jatuh di Siberia. Hal ini menyebabkan lubang sebesar Jawa Barat," tambahnya.

Untuk asteroid kali ini, Thomas mengaku tidak terlalu khawatir. Seandainya jatuh ke bumi pun dampaknya tidak akan terlalu besar.

"Kemungkinan hanya mengganggu jaringan satelit di bumi saja," pungkasnya.

(mad/nrl)

0

Komet Lovejoy selamat dari angin matahari

Lovejoy, sebuah komet yang belum lama ditemukan, ternyata selamat dari penerjunan bunuh diri melintasi atmosfer Matahari yang amat panas pagi tadi, Jumat (16/12/2011). Demikian menurut para ilmuwan NASA.

Komet Lovejoy menerobos korona Matahari sekitar pukul 07.00 WIB, pada jarak 140.000 kilometer dari permukaan Matahari. Suhu di korona bisa mencapai 1,1 juta derajat celsius sehingga kebanyakan peneliti awalnya meyakini batu es pengembara itu bakal hancur lebur.
Akan tetapi, Lovejoy terbukti cukup kuat menghadapi panas. Sebuah video yang diambil oleh wahana Observatorium Dinamika Matahari (SDO) milik NASA menunjukkan, obyek es tersebut muncul dari balik Matahari setelah melintasinya dan melesat ke ruang angkasa.

"Berita gembira, Lovejoy hidup! Komet Lovejoy telah selamat dalam perjalanannya melintasi Matahari dan muncul kembali di sisi lain," begitu bunyi
tweet seorang peneliti SDO.

SDO adalah salah satu dari banyak instrumen yang digunakan para ilmuwan untuk mengawasi Lovejoy dalam lawatannya ke Matahari. Para peneliti awalnya ingin merekam dan mempelajari kematian sebuah komet karena menabrak bintang, yakni Matahari.


"Ini kesempatan yang sangat langka untuk mengamati penguapan menyeluruh dari sebuah komet yang relatif besar, dan kami memiliki 18 instrumen terpasang pada lima satelit untuk menelitinya," ujar Karl Battams, seorang ilmuwan di Laboratorium Riset Angkatan Laut di Washington, di situs Sungrazing Komet, sebelum Lovejoy mendekati Matahari.


Battams mengelola situs yang dikhususkan untuk membahas komet Lovejoy. Komet itu sendiri ditemukan oleh dua wahana yang berbeda: Solar Terrestrial Relations Observatory NASA (STEREO) dan Solar and Heliospheric Observatory (SOHO), yang dioperasikan bersama oleh NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA).


Battams sendiri menyambut berita selamatnya Lovejoy dengan terkejut sekaligus senang. "Saya menduga ekor debunya akan bertahan hidup (walau hanya selama beberapa jam) sebelum memudar, tapi bukan intinya!" ujarnya.


Lovejoy memiliki inti selebar sekitar 200 meter, dan masuk dalam kelas komet yang dikenal sebagai Sungrazers Kreutz, atau komet-komet yang orbitnya sangat dekat dengan Matahari.


Semua komet Sungrazers Kreutz diyakini sebagai sisa-sisa dari sebuah komet raksasa tunggal yang pecah beberapa abad lalu. Mereka dinamai menurut astronom Jerman abad ke-19, Heinrich Kreutz, yang pertama kali menunjukkan bahwa komet-komet tersebut memiliki "hubungan darah".


Banyak komet diketahui bunuh diri dengan menabrak Matahari, tetapi umumnya mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjun ke sana. Itulah yang membuat para ilmuwan begitu bersemangat tentang Lovejoy karena komet ini menunjukkan tanda hendak menerjang Matahari. Astronom amatir Australia, Terry Lovejoy, menemukan komet itu pada 27 November lalu, yang memberikan banyak waktu bagi peneliti untuk memetakan gerakannya.

0

Asteroid Raksasa Melintas Dekat Bumi



Gambar oleh : NASA Asteroid Mathilde 253 berukuran 59 x 47 km yang direkam pada 27 Juni 1997.


Sebuah asteroid raksasa, yang ukurannya lebih besar dari sebuah kapal induk, akan melintas di antara Bumi dan Bulan, Selasa (8/11/2011) mendatang. Ini adalah posisi lintasan asteroid terdekat dengan Bumi dalam 35 tahun terakhir.

Menurut berita dari Associated Press yang dilansir Sabtu (5/11/2011), titik terdekat lintasan asteroid itu dari permukaan Bumi akan terjadi pada Selasa pukul 23.28 GMT (petang hari waktu AS bagian timur atau pukul 06.28 WIB), saat asteroid raksasa itu akan berjarak hanya 325.000 kilometer dari Bumi.

Para ilmuwan mengatakan penduduk Bumi tak perlu khawatir karena asteroid ini tidak akan membawa pengaruh apa pun, apalagi menabrak Bumi. Asteroid bernama 2005 YU55 ini berbentuk bulat dengan diameter sekitar 400 meter dan akan melintas dengan sangat cepat. Pengamat di Bumi tak akan bisa mengamati langsung asteroid ini dengan mata telanjang karena ukurannya akan menjadi sangat kecil pada jarak sejauh itu.

"Anda paling tidak membutuhkan teleskop dengan ukuran cermin 6 inci untuk melihatnya," tutur Scott Fisher, Direktur Program Divisi Ilmu Astronomi di Yayasan Sains Nasional AS. Asteroid ini masuk dalam kelompok 1.262 asteroid besar (berdiameter lebih dari 150 meter) yang oleh Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) dikategorikan memiliki "potensi bahaya" terhadap Bumi. Jika salah satu asteroid raksasa ini menghantam Bumi, maka akan terjadi malapetaka global, seperti yang pernah terjadi jutaan tahun silam dan memusnahkan dinosaurus dari permukaan Bumi.  

Sumber :
AP/AFP

0

Asteroid Kecil di Atmosfer Bisa Disangka Serangan Nuklir

  Rabu, 9 Oktober 2002 Internasional  
Line

WASHINGTON - Asteroid-asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi namun tidak pernah sampai jatuh ke tanah, ternyata dapat saja mendatangkan dampak mematikan.

Sebab, asteroid-asteroid tersebut mungkin dikira ledakan nuklir oleh negara-negara yang peralatannya tidak mampu menunjukkan perbedaan antara suatu benda angkasa dan rudal musuh, kata para ilmuwan AS.

Satu peristiwa seperti itu terjadi pada 6 Juni lalu, ketika satelit-satelit AS memberikan peringatan dini yang mendeteksi suatu kilatan cahaya di atas Mediterania (kawasan Laut Tengah). Kilatan itu mengindikasikan adanya pelepasan energi besar seperti anergi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, kata Brigadir Jenderal AD AS Simon Worden, di hadapan sidang DPR AS yang membahas isu ruang angkasa dan aeronautika, akhir pekan lalu.
Kilatan cahaya tersebut terjadi, ketika sebuah asteroid mungkin berdiameter 10 meter jatuh ke lapisan atmosfer Bumi, menghasilkan gelombang kejut yang akan mengguncang setiap kapal yang berlayar di kawasan tersebut dan mungkin menyebabkan kerusakan kecil, kata Worden.

Sedikit pemberitahuan diberikan mengenai peristiwa tersebut pada saat itu, tapi Worden mengatakan jika itu terjadi selama beberapa jam sebelumnya dan berlangsung di atas India dan Pakistan, akibatnya mungkin mengerikan.
''Menurut pengetahuan kami, tidak satu pun dari negara-negara itu memiliki sensor canggih yang dapat menentukan perbedaan antara objek dekat Bumi (NEO) alami, seperti asteroid, dan suatu ledakan nuklir,'' tambahnya.

619 Objek

''Kepanikan yang timbul di negara-negara bermusuhan yang masing-masing punya senjata nuklir bisa pecah dan menyulut perang nuklir yang kita hindari selama lebih dari separo abad,'' kata dia, pada sebuah komisi DPR yang menyidik risiko dari asteroid atau objek lain yang mungkin membentur Bumi.
''Pada saat Capitol Hill (Kongres AS) Putih sibuk membicarakan Presiden Saddam Hussein dan ancaman potensial Irak karena bisa menguasai senjata pemusnah massal, kita perlu mencatat bahwa ada objek-objek di luar angkasa yang mungkin mengarah ke Bumi, yang mengandung begitu banyak kekuatan destruktif sehingga membuat Saddam Hussein tampak menjadi faktor tidak berbahaya pada kehidupan kita,'' kata Dana Rohrabacher dari Partai Republik, California, yang menjabat sebagai ketua sidang itu, kepada peserta sidang.
Para pakar astronomi telah lama prihatin atas kerusakan akibat asteroid dan komet. Sejak 1998 NASA (Badan Penerbangan dan Antariksa AS) telah mengidentifikasi 90 persen dari seluruh NEO - objek-objek berdiameter satu kilometer atau lebih - pada 2008.

Kepala bidang ilmu ruang angkasa NASA, Ed Weiler, mengatakan pada komisi tersebut bahwa para ilmuwan telah mengidentifikasi 619 objek yang diduga asteroid besar dan berbahaya, yang sekitar separo pakar astronomi yakin asteroid-asteroid itu ada di sekitar Bumi. Jenis asteroid besar tersebut membentur Bumi beberapa kali setiap jutaan tahun, dan ketika itu terjadi, menyebabkan bencana regional. Sebaliknya, asteroid berdiameter 4,8 kilometer yang disebut penyebab kiamat - seperti diyakini orang telah memusnahkan dinosaurus - membentur Bumi sekali setiap sepuluh juta tahun atau lebih.

Dua Kali Setahun

Salah satu yang menyebabkan kilatan cahaya di atas Mediterania pada Juni lalu, mungkin asteroid berukuran sebesar mobil, dan tidak berbahaya bagi Bumi. Asteroid seperti itu memasuki atmosfir dua kali sebulan.
Namun asteroid-asteroid berukuran berkisar dari 30 meter sampai ratusan meter dapat menyebabkan kerusakan serius, termasuk menimbulkan gelombang kejut yang luar biasa atau tsunami jika asteroid itu jatuh di laut, yang menyebabkan bencana meluas jika tsunami terjadi dekat pantai berpenduduk.

Asteroid berukuran kecil tidak menjadi bagian penelitian NASA, dan Worden berpendapat yang kecil-kecil itu mungkin lebih baik menjadi peran Angkatan Udara AS untuk melacaknya. Menurutnya, juga penting untuk memberikan peringatan dini mengenai benda-benda angkasa yang memasuki Bumi kepada negara-negara lain yang tidak memiliki teknologi tersebut.

Worden mengatakan, Amerika Serikat negara satu-satunya di dunia yang memiliki kemampuan dalam waktu kurang satu menit untuk menentukan apakah sebuah objek angkasa yang meluncur ke Bumi adalah asteroid atau bom. Negara itu menghabiskan sekitar empat juta dolar AS (sekitar Rp 36 mi-liar) setahun untuk melacak asteroid dan komet, tapi sangat sedikit strategi yang menjauhkan asteroid dan komet itu dari Bumi, kata para ilmuwan bulan lalu.(rtr-ben-30)

0

Lubang Hitam Telan Sebuah Bintang Mirip Matahari

  Jumat, 20 Februari 2004 Internasional  
Line

Sebuah lubang hitam besar mengoyak-koyak satu bintang mirip Matahari, menelan sebagian di antaranya, dan melempar sebagian lainnya ke lingkungan kosmik dalam suatu aksi kerakusan antariksa yang berhasil direkam dua observatorium orbit, kata para ilmuwan kemarin.
Bintang yang mengalami naas itu mungkin berada di luar jalur dan memasuki garis edar lubang hitam sangat besar setelah bertemu dengan bintang lain, demikian menurut para astronom yang menggunakan Observatorium sinar-X Chandra milik NASA dan Observatorium sinar-X XMM-Newton milik Badan Antariksa Eropa.
Saat bintang tersebut mendekati bagian tengah satu galaksi yang letaknya sekitar 700 juta tahun cahaya dari Bumi, lubang hitam yang mengintai di tempat itu merentangkan bintang itu dan akhirnya mengoyak-koyaknya. Satu tahun cahaya sama dengan sekitar enam triliun mil (10 triliun kilometer), jarak perjalanan cahaya dalam satu tahun.
"Bintang-bintang bisa bertahan jika direntangkan dalam jarak pendek, namun bintang ini direntangkan melebihi titik putusnya," kata Stefanie Komossa, ketua tim peneliti internasional yang mendeteksi kejadian tersebut.
"Bintang yang malang ini mungkin berkelana ke lingkungan yang keliru," jelas Komossa dalam pernyataannya.
Bukti Teori Lama
Selain kejamnya kejadian ini, para astronom yakin peristiwa itu merupakan bukti kuat untuk mendukung teori lama bahwa lubang-lubang hitam mampu menarik benda-benda kosmik, merentangkannya sampai benda-benda itu putus dan kemudian menelannya.
"Ini merupakan salah satu Holy Grails astronomi," kata Alex Filippenko, profesor di Universitas California-Berkeley, pada satu brifing di markas NASA (Badan Antariksa AS).
Para astronom telah memiliki bukti sejak 1960-an bahwa beberapa galaksi memancarkan radiasi elektromagnetik yang sangat kuat. Pancaran itu diduga ditimbulkan oleh putaran material yang diisap ke dalam lubang hitam setiap galaksi, jelas Filippenko.
Pancaran kuat seperti itu terjadi di pusat galaksi yang tampaknya tenang, RX J1242-11, yang tampak normal dalam teleskop optik yang diletakkan di Bumi.
Namun, observatorium Chandra dan XMM-Newton melihat kosmos itu dengan melacak sinar-sinar-X, yang berarti mereka bisa menembus gas kosmis dan debu untuk mendeteksi sesuatu yang tidak bisa dilihat teleskop optik.
Dua observatorium ini mengindikasikan bahwa pancaran tersebut terjadi ketika gas dari bintang yang dikoyak-koyak dipanasi jutaan derajat saat sebagian dari bintang itu ditarik ke lubang hitam.
Beberapa pecahan bintang itu - lebih dari satu persen, namun kurang dari 25 persen - ditarik ke dalam lubang hitam, sedangkan sebagian lainnya disebar ke galaksi yang mengitarinya, jelas para astronom pada brifing tersebut.
Contoh Ekstrim
Kekuatan yang menyeret bintang itu menuju ke kematiannya merupakan contoh ekstrim dari apa yang dikenal sebagai gangguan yang disebabkan pasang naik dan pasang surut, sejenis pengaruh gravitasi yang digunakan bulan terhadap kumpulan air yang luas di Bumi.
Gangguan yang disebabkan pasang naik dan pasang surut pada sebuah bintang itu mungkin terjadi sekitar sekali setiap 10.000 tahun dalam satu galaksi khusus, kata para ilmuwan. Dan sebuah bintang yang berkelana di dekat satu lubang hitam tidak selalu dipecah-pecah dan ditelan sebagian, jelas mereka.
Beberapa bintang mungkin ditelan semuanya, sedangkan bintang-bintang lain barangkali dipaksa berputar jauh lebih cepat dibandingkan tingkat rotasi normalnya.
Hal itu terjadi jauh dari Bumi dalam perbintangan Virgo, namun mungkin punya dampak pada galaksi Bima Sakti, yang seperti sebagian besar galaksi memiliki satu lubang hitam besar di bagian pusatnya. (rtr-niek-46)

Black Hole yang Misterius

  • Oleh Amien Nugroho
SAMPAI saat ini, lubang hitam (black hole) masih dipandang satu-satunya objek astronomik paling misterius karena tak bisa diamati secara langsung melalui teleskop optik tercanggih sekalipun. Sebab, semua materi, termasuk cahaya, akan tersedot dan tak bisa lepas dari permukaannya.

Lubang hitam diyakini terlahir ketika bintang bermassa besar (10-15 kali massa matahari) menjalani akhir hayat sebagai bintang meledak yang dahsyat (supernova). Lubang hitam hasil kematian sebuah bintang dinamakan lubang hitam bintang (stellar black hole). Pengamatan para astronom dengan teleskop modern dewasa ini mengindikasikan keberadaan lubang hitam maharaksasa bermassa jauh lebih besar dari sebuah bintang. Lubang hitam itu diperkirakan bermassa miliaran massa bintang dan disebut lubang hitam supermasif.


Eksistensi lubang hitam di alam semesta diprediksi matematikawan Jerman, Karl Schwarzshild, tahun 1916. Dia menggunakan Teori Relativitas Umum yang dicetuskan Albert Einstein tahun 1915 untuk menghitung solusi medan gravitasi berupa titik massa. Namun Schwar-zshild tak begitu yakin solusinya itu punya makna fisis atau bisa ditemukan di alam.


Teka-teki solusi Schwarzschild terkuak setelah ditemukan objek pemancar sinar X kuat dari kedalaman antariksa tahun 1960-an. Menurut teori evolusi bintang, sumber radiasi sinar X itu membuktikan keberadaan objek sangat mampat seperti bintang neutron atau lubang hitam.


Istilah lubang hitam kali pertama diperkenalkan John A Wheeler tahun 1967 untuk melukiskan kondisi kelengkungan ruang-waktu di sekitar benda bermassa dengan medan gravitasi sangat kuat. Menurut Teori Relativitas Umum, kehadiran massa akan mendistorsi ruang dan waktu.


Dalam bahasa sederhana, kehadiran massa akan melengkungkan ruang dan waktu di sekitarnya.

Ilustrasi yang acap dipakai memperagakan kelengkungan ruang di sekitar benda bermassa adalah dengan lembaran karet elastis untuk mendeskripsikan ruang tiga dimensi ke ruang dua dimensi. Bila kita menggelindingkan bola pingpong di atas hamparan lembaran karet itu, bola bergerak lurus dengan hanya memberi sedikit tekanan pada lembaran karet.

Sebaliknya, bila kita letakkan bola biliar bermassa lebih besar (masif), lembaran karet melengkung dengan cekungan di pusat yang ditempati bola biliar itu. Makin masif bola kian besar tekanan yang diberikan dan kian dalam pula cekungan pusat yang dihasilkan pada lembaran karet.


Gerak bumi dan planet-planet lain dalam tata surya mengorbit matahari sebagai hasil kerja gaya gravitasi, sebagaimana dibuktikan Isaac Newton tahun 1687 dalam Principia Mathematica. Melalui persamaan matematika yang menjelaskan hubungan antara kelengkungan ruang dan distribusi massa, Einstein ingin memberi gambaran tentang gravitasi yang berbeda dari pendahulunya itu.


Bila sekarang kita menggelindingkan bola yang lebih ringan di sekitar bola yang masif pada lembaran karet, bola yang ringan tak lagi mengikuti lintasan lurus sebagaimana seharusnya, tetapi mengikuti kelengkungan ruang yang terbentuk di sekitar bola yang lebih masif. Cekungan yang dibentuk berhasil “menangkap” benda bergerak lain sehingga mengorbit benda pusat yang lebih masif. Itulah deskripsi yang sama sekali baru tentang penjelasan gerak mengorbit planet-planet di sekitar matahari dalam relativitas umum.


Dalam kasus lain, bila benda bergerak menuju ke pusat cekungan, benda itu akan tertarik ke arah benda pusat. Itu juga memberi penjelasan tentang fenomena jatuhnya meteoroid ke matahari, bumi, atau planet-planet lain.


Jari-jari Schwarzschild


Dengan memakai persamaan matematisnya untuk sembarang benda berbentuk bola sebagai solusi eksak atas persamaan medan Einstein, Schwarzschild menemukan suatu kondisi kritis yang hanya bergantung pada massa benda itu. Bila jari-jari benda (bintang misalnya) mencapai harga tertentu, kelengkungan ruang-waktu jadi sedemikian besar sehingga tak ada satu materi pun dapat lepas dari permukaan objek itu, termasuk cahaya. Jari-jari kritis itu sekarang dikenal sebagai jari-jari Schwarzschild, yang besarnya dapat dihitung dengan rumus 2GM/r kuadrat. G adalah tetapan gravitasi  6.673 X 10-11 -Newton m2/detik kuadrat, C kecepatan cahaya 299.792.4580 m/detik, dan M massa benda. Bintang masif yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna seperti itu, untuk kali pertama disebut lubang hitam.


Untuk menjadi lubang hitam, menurut persamaan Schwarzschild, matahari kita yang berjari-jari sekitar 696.000 km harus dimampatkan hingga berjari-jari 2,5 km. Namun matahari kita tak akan menjadi lubang hitam di kelak kemudian hari. Sebab, massa matahari tak melebihi batas penghamburan materi, yakni 1,44 kali massa matahari kita. Jadi matahari kita tak memenuhi syarat menjadi lubang hitam. Yang paling mungkin, pada suatu saat kelak, matahari kita menjadi bintang katai atau kerdil putih.


Meski persamaan Schwarzschild mampu menjelaskan keberadaan lubang hitam, banyak ilmuwan kala itu, termasuk Einstein, memandang sebelah mata hasil Schwarzschild. Mereka menganggap persamaan Schwarzschild sebagai enigma matematis belaka, tanpa kehadiran makna fisis. Namun belakangan terbukti, keadaan ekstrem yang ditunjukkan persamaan Schwarzschild sekaligus model yang diajukan  dua fisikawan AS, Robert Oppenheimer dan Hartland Snyder, tahun 1939 yang berangkat dari perhitungan Schwarzschild, berhasil ditunjukkan dalam simulasi komputer. (51)


- Amien Nugroho, pengamat teknologi dan astronomi, tinggal di Yogyakarta