0

Mungkinkah Bumi Disedot Black Hole

Beberapa waktu lalu ada kekhawatiran penelitian LHC (Large Hadron Collider) bisa menciptakan lubang hitam di Bumi yang membahayakan manusia. Mungkinkah black hole bisa terjadi/muncul di Bumi? Black hole atau lubang hitam tidak bisa terjadi atau muncul di bumi, dan juga tidak bisa muncul di tata surya kita ataupun wilayah dengan jarak kurang dari 500 tahun cahaya dari tata surya kita. Sebabnya, tidak adanya benda-benda bermassa besar yang berpotensi menjadi stellar black hole (lubang hitam berasal dari bintang).
Lubang hitam biasanya berada di pusat-pusat galaksi. Misalnya di bagian pusat galaksi kita, ada lubang hitam (galactic black hole) yang mempunyai masa beberapa juta kali massa matahari. Tata surya kita letaknya jauh dari pusat galaksi. Seandainya kita bisa memproduksi energi sangat tinggi yang memungkinkan terbentuk black hole, maka black hole yang terbentuk adalah amat sangat kecil dan sangat tidak stabil - yang artinya sama sekali tidak ada pengaruhnya.

0

Chandra Temukan Pasangan Lubang Hitam Terdekat


Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 1 September 2011 | 14:11 WIB
Dibaca: 13944
|
Share:
NASA Astronom yang menggunakan teleskop Chandra X-ray menemukan pasangan lubang hitam di sebuah galaksi spiral yang mirip galaksi kita. Dengan jarak 160 juta tahun cahaya, ini adalah pasangan lubang hitam raksasa terdekat dari Bumi.
KOMPAS.com — Teleskop Chandra X Ray yang digunakan oleh para astronom berhasil menemukan pasangan lubang hitam supermasif di galaksi spiral seperti Bimasakti. Terletak pada jarak 160 juta tahun cahaya, pasangan lubang hitam tersebut juga merupakan pasangan lubang hitam terdekat dari Bumi.
Galaksi tempat pasangan lubang hitam tersebut bernaung bernama NGC 3393. Pasangan lubang hitam hanya terpisah sejauh 490 tahun cahaya. Para astronom berpendapat bahwa pasangan lubang hitam itu adalah hasil penggabungan miliaran tahun lalu di antara dua galaksi berjarak dekat dan berbeda massa.
"Jika dua galaksi tersebut tidak cukup dekat, maka kita tak memiliki kesempatan untuk memisahkan dua lubang hitam itu seperti yang kita lakukan sekarang," kata Pepi Fabbiano dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics seperti dikutip Physorg, Rabu (31/8/2011).
Fabbiano, yang memimpin studi yang dipublikasikan di Nature pada minggu lalu itu, menambahkan, "Karena galaksi ini tepat di depan hidung kita berdasarkan standar kosmik, kita menjadi penasaran ada berapa banyak pasangan lubang hitam yang belum ditemukan atau terlewat."
Observasi sebelumnya dengan sinar-X dan sinar dengan panjang gelombang berbeda mengindikasikan adanya lubang hitam di galaksi NGC 3393. Namun, dengan Chandra X Ray, akhirnya didapatkan bahwa sebenarnya ada dua lubang hitam. Dua lubang hitam tersebut sama-sama sedang tumbuh.
Astronom mengungkapkan, jika dua galaksi spiral bergabung, pasangan lubang hitam dan galaksi dengan wilayah pembentukan bintang yang intens seharusnya terbentuk. Contohnya adalah yang terjadi pada galaksi NGC 6240 pada jarak 330 juta tahun cahaya.
Namun, astronom melihat bahwa NGC 3393 adalah galaksi spiral yang sangat teratur dengan bagian tengah terdiri dari bintang-bintang tua. Menurut para astronom, karakteristik ini tak biasa ditemukan pada galaksi yang memiliki pasangan lubang hitam.
Astronom juga mengatakan bahwa NGC 3393 mungkin juga merupakan galaksi pertama hasil merger antara galaksi besar dan kecil, disebut minor merger. Menurut teori, minor merger adalah cara paling umum dalam pembentukan pasangan galaksi. Meski demikian, selama ini buktinya sulit ditemukan.
Astronom mengatakan, jika pasangan lubang hitam memang hasil minor merger, maka lubang hitam yang satu pasti memiliki massa lebih kecil sebelum galaksinya melakukan merger. Estimasi dari ukuran lubang hitam belum bisa dilakukan saat ini.
Penemuan NGC 3393 memiliki kesamaan dengan kemungkinan penemuan pasangan lubang hitam supermasif pada jarak 2 miliar tahun cahaya dari Bumi oleh Julia Comerford dari University of Texas. Pasangan lubang hitam itu terdapat di galaksi yang tak memiliki fitur spiral seperti NGC 3393.
Guido Risaliti, yang juga terlibat penelitian ini, mengatakan, "Tabrakan dan merger adalah salah satu cara terpenting bagi galaksi dan lubang hitam untuk tumbuh. Mencari pasangan lubang hitam di galaksi spiral adalah jalan keluar untuk menjawab bagaimana ini bisa terjadi."

0

NASA Temukan 54 Planet Serupa Bumi

Perburuan planet-planet ekstrasurya atau di luar tata surya yang mirip Bumi dan mendukung kehidupan terus dilakukan. Teleskop luar angkasa Kepler milik Badan Antariksa AS (NASA) dirancang secara khusus untuk mencari planet-planet seperti itu.

"Hanya dalam waktu setahun meneropong sebagian kecil galaksi kita, Kepler berhasil menemukan 1.235 planet di luar tata surya kita. Yang mengejutkan, 54 di antaranya kemungkinan dapat dihuni manusia, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin," kata William Borucki, kepala ilmuwan yang terlibat dalam misi Kepler, Rabu (2/2/2011) malam waktu AS.

Dari 1.235 planet baru yang terdeteksi, 68 di antaranya seukuran Bumi, 288 super Bumi, 662 seukuran Neptunus, 165 seukuran Jupiter, dan 19 lebih besar dari Jupiter. Sementara dari 54 planet yang ditemukan di zona orbit yang mendukung kehidupan, 5 di antaranya seukuran Bumi dan sisanya antara super Bumi atau dua kali ukuran Bumi hingga seukuran Jupiter.

"Kami mulai dari nol ke 68 kandidat planet seukuran Bumi dan dari nol hingga 54 kandidat di zona yang mendukung kehidupan, sebuah wilayah di mana air dalam bentuk cair mungkin ada di permukaan planet. Beberapa kandidat mungkin juga memiliki bulan dengan air dalam bentuk cair," jelas Borucki.

Penemuan planet yang mendukung kehidupan sebanyak 54 buah merupakan jumlah yang sangat banyak. Sejauh ini bahkan bisa dikatakan belum pernah ditemukan planet ekstrasurya yang benar-benar dapat dipastikan mirip Bumi dan kemungkinan dapat dihuni. Kalaupun mengandung senyawa organik dan zat-zat yang dibutuhkan untuk kehidupan, planet yang ditemukan biasanya terlalu jauh atau terlalu dekat bintangnya.

Meski disebut mendukung kehidupan, planet-planet tersebut belum dapat dipastikan ada kehidupan di sana saat ini seperti Mars misalnya. Kalaupun ada kehidupan mungkin berupa jasad renik seperti bakteri atau jenis kehidupan yang belum terbayangkan saat ini. Pekerjaan rumah berikutnya yang masih harus dilakukan para ilmuwan adalah menentukan ukuran planet-planet tersebut, komposisi, suhu permukaan, jarak dari bintangnya, kondisi atmosfer, dan kemungkinan adanya air serta senyawa karbon.

Semua planet asing tersebut ditemukan di galaksi Bima Sakti. Namun, jaraknya terlalu jauh dari Bumi dan mustahil mengirim misi ke sana. Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, perlu jutaan tahun untuk berkunjung ke planet-planet tersebut.

"Cucu-cucu kita yang akan memutuskan apa langkah selanjutnya. Apakah mereka akan pergi ke sana? Apakah mereka hanya akan mengirim robot ke sana?" kata Borucki.

0

Dawn Buka Tabir Asteroid Vesta

 | Selasa, 2 Agustus 2011 | 20:48 WIB
Dibaca: 1172
|
Share:
NASA
PASADENA, KOMPAS.com - Wahana antariksa Dawn yang diluncurkan pada tahun 2007 berhasil membuka cadar asteroid Vesta, mengungkap wajah sebenarnya dari asteroid berusia sekitar 4,65 juta tahun tersebut.
Dalam diskusi panel di jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California yang digelar Senin (1/8/2011) kemarin, tim ilmuwan yang terlibat misi ini mengungkap fakta-fakta yang berhasil dikuak Dawn.
Holger Sierks dari Max Planck Society, Jerman, mengatakan bahwa kutub utara dari asteroid itu saja memiliki rupa yang sangat kaya. "Ini akan membuat tim ilmuwan sibuk selama bertahun-tahun," katanya.
Belahan utara dari asteroid Vesta memiliki lebih banyak kawah. Sementara, belahan selatan yang lebih halus memiliki kawah lebar dengan satu bentukan puncak gunung di tengahnya.
Chris Russel, Kepala Investigasi Dawn, mengatakan, "kawah pada asteroid memiliki fitur yang tidak kami duga. Sekarang, kami tengah mempelajari proses yang mengakibatkan pembentukannya."
Diperkirakan, Vesta pernah mengalami tumbukan dengan benda langit lainnya. Ini dikuatkan dengan adanya bentukan pegunungan sempurna di ekuatornya, sesuatu yang belum pernah dilihat ilmuwan sebelumnya.
Seluruh fakta tersebut didapatkan saat Dawn memasuki orbit Vesta bulan lalu dan mendekatinya dengan kecepatan 60 mph, kecepatan yang cukup pelan untuk sebuah wahana antariksa.
Selanjutnya, Vesta akan tetap melanjutkan mengorbit Vesta selama satu tahun. Dengan perubahan lokasi dan pola orbiotal, Vesta diharapkan bisa mengungkap fakta lain tentang Vesta.
Vesta hanyalah salah satu tujuan Dawn dala memecahkan misteri semesta. Setelah Vesta, Dawn direncanakan menuju Ceres dan ditargetkan sampai pada tahun 2015.

Satu Planet Dikonfirmasi Layak Huni
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Selasa, 6 Desember 2011 | 10:50 WIB
Dibaca: 47756
|
Share:
NASA Ilustrasi Kepler 22-b
CALIFORNIA, KOMPAS.com — Wahana antariksa Kepler kembali membuat kejutan. NASA mengumumkan pada Senin (5/12/2011) bahwa salah satu dari 2.326 kandidat planet temuan Kepler telah dikonfirmasi sebagai planet layak huni.

"Ini penemuan yang fenomenal. Ini membuktikan bahwa Homo sapiens semakin dekat dengan pencapaian kita di semesta untuk menemukan planet yang mengingatkan kita akan rumah. Kita hampir di sana," kata Geoff Marcy, peneliti dari University of California, Berkeley, seperti dikutip AP, Selasa (6/12/2011).

Planet yang dikonfirmasi layak huni tersebut bernama Kepler 22b. Planet itu mengorbit bintang serupa Matahari bernama Kepler 22 dan berjarak 600 tahun cahaya dari Bumi.

Kepler 22b memiliki beberapa kesamaan dengan Bumi. Bumi mengelilingi Matahari selama 365 hari, sedangkan Kepler 22b mengelilingi bintang induknya dalam waktu 290 hari. Cuma beda tipis.

Temperatur Bumi dan Kepler 22b pun tak berbeda jauh. Disebutkan bahwa jika efek rumah kaca bekerja di Kepler 22b, maka temperatur di planet itu sekitar 22 derajat celsius.

Perbedaan dijumpai pada ukurannya. Kepler 22b berukuran 2,4 kali lebih besar daripada Bumi.

Sementara massanya belum diketahui sehingga sulit dipastikan apakah Kepler 22b merupakan planet batuan atau gas raksasa. Jika merupakan planet gas, maka tentu sulit bagi manusia untuk hidup di sana.

Meski dikonfirmasi layak huni, masih sulit bagi manusia untuk pergi ke Kepler 22b. Satu tahun cahaya setara dengan 9,65 triliun kilometer. Butuh waktu 22 juta tahun untuk ke sana dengan teknologi yang ada sekarang. Teknologi-lah yang nanti akan menjawab apakah pergi ke Kepler 22b akan menjadi mimpi atau kenyataan.

Selain penemuan Kepler 22b, NASA juga mengumumkan bahwa kini Kepler telah memiliki 2.326 kandidat planet layak huni. Jumlah ini bertambah 1.094 dari pengumuman pada bulan Februari 2011 lalu yang menyatakan bahwa ada 1.235 kandidat planet layak huni.

Dari jumlah 2.326 kandidat planet, 207 di antaranya memiliki ukuran setara Bumi. Sementara 680 lainnya lebih besar dari Bumi. Jumlah planet yang ada di Zona Layak Huni sendiri ada 48 buah. Masih dibutuhkan penelitian untuk mengonfirmasi apakah sekian planet-planet tersebut layak huni.

0

Vesta, Planet atau Asteroid

Vesta, Planet atau Asteroid?
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Rabu, 7 Desember 2011 | 09:23 WIB
Dibaca: 8546
|
Share:
NASA Citra belahan selatan Asteroid Vesta yang diambil wahana antariksa Dawn. Tampak formasi Rheasilvia, daerah tumbukan berdiameter 467 kilometer dengan gundukan setinggi 23 kilometer.

TERKAIT:

SAN FRANSISCO, KOMPAS.com — Citra terbaru asteroid Vesta yang didapatkan oleh wahana antariksa Dawn membuat para ilmuwan bingung. Pasalnya, asteroid tersebut lebih terlihat seperti planet daripada sebuah asteroid.

"Vesta tak terlihat seperti asteroid," kata Vishnu Reddy, ilmuwan dari Max Planck Institute for Solar System, Jerman, seperti dikutip AP, Selasa (6/12/2011).
"Inti besi Vesta menjadikannya spesial dan membuatnya lebih mirip planet batuan daripada asteroid," tutur Carol Raymond, deputi pemimpin investigasi Dawn dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, kepada Space, Selasa.
Tak seperti asteroid lainnya, permukaan Vesta kaya akan alur, terusan, dan kawah. Reddy juga mengungkapkan bahwa bentuk Vesta lebih menyerupai alpukat, padahal umumnya asteroid menyerupai kentang.

David William dari Arizona State University mengatakan bahwa Vesta adalah transisi antara planet batuan dan asteroid.

Citra terbaru Vesta dipaparkan dalam pertemuan American Geophysical Union di San Fransisco. Penemuan itu merupakan salah satu kejutan yang diberikan wahana Dawn yang menguntit Vesta sejak  2007.
Dalam citra, Vesta juga terlihat berwarna pelangi. Warna tersebut merepresentasikan beragamnya komposisi asteroid raksasa itu. Pada citra juga terdapat bagian hitam di tengah yang sebenarnya hanya akibat posisi Dawn, Matahari, dan Vesta. Permukaan Vesta diketahui mengandung mineral besi pyroxene.
Jadi, apakah Vesta planet atau asteroid? Belum tahu. Namun, jika disebut planet, mungkin hanya planet kerdil.

Yang jelas, Vesta ternyata memiliki banyak kejutan. Berdasarkan hasil pengamatan Dawn, Vesta memiliki gunung setinggi 24 kilometer di sekat kutub selatannya serta jurang sedalam 20 km di belahan utara.

Ilmuwan masih terus meneliti Vesta. Salah satunya adalah ada tidaknya aktivitas vulkanik di salah satu asteroid terbesar di Tata Surya itu.

0

Misteri "Batik" di Mars Terungkap


Kamis, 8 Desember 2011 | 15:45 WIB

|
Share:
NASA Motif garis di kawah Russell, Mars.

TEXAS, KOMPAS.com — Permukaan Mars, seperti di salah satu kawah bernama Russel, memiliki permukaan yang tidak rata. Hasil pencitraan yang dilakukan menunjukkan bahwa permukaan kawah Russell mirip batik, memiliki garis-garis misterius yang proses pembentukannya belum terungkap.

Baru-baru ini, tim peneliti yang tergabung dalam Mars Global Surveyor berhasil menguraikan sebab pembentukan motif aneh di planet merah itu. Sempat dikira terbentuk oleh air, ilmuwan menjelaskan bahwa motif itu justru terbentuk oleh karbon dioksida (CO2).

Ceritanya, wilayah kutub Mars, di tempat kawah Russell berada, terdiri dari CO2 dan air. Ketika Matahari menghangatkan wilayah ini, air dan CO2 mengalami perubahan wujud yang disebut sublimasi, dari padat langsung menjadi gas tanpa melewati fase cair.

Gas akan mengangkat partikel debu yang ada di permukaan Mars, mengurangi gesekan, memungkinkan partikel debu bergerak mudah. "Gas memberikan bantalan sehingga partikel tidak terikat satu sama lain dan berhenti bergerak," kata Allan Treiman dari Lunar and Planetary Institute di Texas.

Treiman yang bekerja sama dengan Yolanda Cedillo-Flores dari Universidad Nacional Autonoma de Mexico seperti dikutip Space, Rabu (7/12/2011), mengatakan bahwa partikel debu dan pasir itulah yang membentuk motif aneh tersebut. Biasanya, pembentukan terjadi pada musim semi.

Syarat pembentukan motif aneh itu adalah suhu -78 derajat celsius. Suhu tersebut memungkinkan sedimen berada di atasnya. Sedimen akan bertindak sebagai insulator. Di zona hangat, CO2 dan air takkan tersublimasi. Namun di zona dingin, hal itu akan terjadi.

Mungkinkah motif ini terjadi di Bumi? Hal tersebut sangat jarang dijumpai. Bumi terlalu hangat dan lembab untuk memungkinkan fenomena ini terjadi. Yang mungkin terjadi adalah aliran salju bercampur gas dan debu.