1

Bulan planet Saturnus, berpotensi dihuni oleh alien.

Bulan planet Saturnus, Enceladus, dan bulan milik Jupiter, Europa diklaim NASA (National Aeronautics and Space Administration) berpotensi dihuni oleh alien.

Seperti yang dilansir oleh Daily Mail (28/10), Enceladus dan Europa adalah jenis bulan atau satelit yang permukaannya tertutup lapisan es tebal. Nah, di bawah es itu lah NASA yakin terdapat samudra luas yang dipenuhi mikroba atau hewan asing alias alien.

Untuk menemukan alien di Enceladus, NASA sudah mengirim pesawat luar angkasa Cessini. Cessini bertugas terbang ke bagian kutub selatan Enceladus di ketinggian 30 mil. Dari sana, Cessini bakal meneliti air dan gas yang disemburkan dari Enceladus.

Menurut NASA, sampai saat ini Cessini masih berhasil mengumpulkan satu tetes air saat melintasi Enceladus dengan kecepatan 30.600 kilometer per jam. Tetapi, NASA percaya satu tetes air itu cukup untuk menjawab beberapa misteri dari Enceladus.

Sayangnya, hasil analisis data Cessini disebut baru akan selesai dalam beberapa bulan ke depan.

"Ini adalah sebuah langkah besar menuju era baru eksplorasi dunia laut yang ada di tata surya. Langkah ini berpotensi memberikan bukti adanya kehidupan di luar Bumi," ujar Curt Niebur, ilmuwan dalam misi Cessini NASA.

Di sisi lain, NASA juga meyakini ada sebuah laut asin luas di bawah daratan es Europa. Ilmuwan dari Caltech mengungkapkan bila manusia bisa mencari tanda-tanda kehidupan di retakan permukaan es Europa. Retakan itu disebut hasil dorongan kuat air yang berusaha keluar dari bawah es.

Konsep robot NASA yang dipakai untuk meneliti Europa

"Kita telah mengetahui sejak lama bahwa permukaan es segar Europa, yang ditutupi dengan retakan dan pegunungan, adalah tanda keberadaan dari laut asin yang luas tepat di bawahnya," kata ilmuwan Caltech, Mike Brown.

0

asteroid pun pesta hallowen


Merdeka.com - Masih ingatkan Anda dengan asteroid 2015 TB145 yang minggu lalu diberitakan mendekati Bumi tanggal 31 Oktober atau bertepatan dengan Halloween. Entah kebetulan atau tidak, asteroid itu ternyata memiliki bentuk mirip tengkorak manusia.

Berdasarkan pengamatan teleskop infra merah NASA, IRTF, di Mauna Kea, Hawaii, terlihat bila batu raksasa itu mempunyai dua lubang menganga besar yang sejajar mirip mata. Sementara tepat di bagian bawah dua lubang itu ada sebuah lubang lain yang lebih kecil. Jika dilihat sekilas, nyaris seperti tengkorak lengkap dengan lubang mata dan hidung.

Menurut NASA, asteroid itu dulunya adalah sebuah komet yang kini sudah mati. Bentuk mirip tengkorak itu diduga terjadi akibat hantaman benda-benda luar angkasa lain dan serangan badai matahari ketika si komet bolak-balik mengelilingi matahari.

"Data dari IRTF mengindikasikan bila asteroid itu adalah komet yang mati, tapi radar dari pusat observasi Arecibo memperlihatkan bila asteroid itu 'memakai' kostum tengkorak saat terbang di hari Halloween," canda ilmuwan NASA, Kelly Fast, Daily Mail (30/10).

NASA berujar bila asteroid TB145 hanya akan lewat di dekat Bumi, pada jarak 499.000 kilometer dari Bumi. Berdasarkan perhitungan NASA, jarak terdekat antara asteroid TB145 dengan Bumi pada tanggal 31 Oktober adalah 1,3 kali jarak Bumi-Bulan.

NASA juga mengungkapkan bila 2015 TB145 adalah asteroid dengan lintasan terdekat dengan Bumi sejak tahun 2006. Asteroid lain dengan lintasan terdekat lain diperkirakan baru akan lewat tahun 2027.

"Asteroid TB145 adalah benda langit raksasa dengan lintasan terdekat dengan Bumi, sampai nanti asteroid 1999 AN10 kembali lewat di tahun 2027," ujar NASA minggu lalu.

Menariknya, data NASA sebelumnya memperkirakan bila lebar asteroid itu mencapai 2,5 kilometer tetapi data Arecibo mengatakan bila diameter asteroid itu hanya 600 meter. Apakah alat observasi NASA dan Arecibo melihat dari sudut yang berbeda?

0

kenapa mars jadi planet mati?


Merdeka.com - Berbeda dengan Bumi, planet Mars terlihat tidak memiliki kehidupan di dalamnya. Lewat penelitian pesawat luar angkasa Maven milik NASA, akhirnya ilmuwan menemukan penyebab mengeringnya Mars.

Menurut NASA, planet Mars sejatinya mempunyai atmosfer dan lautan seperti halnya Bumi sekitar 4,2 miliar tahun lalu. Namun, akibat sesuatu yang tidak diketahui, planet tersebut kehilangan lapisan medan magnetnya.

Perlu diketahui, medan magnet planet seperti milik Bumi dibutuhkan untuk melindungi atmosfer dan permukaan planet dari badai matahari yang merusak. Apabila medan magnet itu lenyap, badai matahari dengan mudah mengeringkan Mars dan mengikis atmosfernya. Alhasil, kini Mars menjadi planet mati tanpa kehidupan.



Ilustrasi medan magnet Mars dan Bumi dihantam badai matahari

Saat ini lapisan atmosfer Mars diperkirakan 100 kali lebih tipis dari pada atmosfer Bumi. Lapisan atmosfer itu juga lebih banyak terdiri dari gas karbondioksida.

"Mars kelihatannya dulu mempunyai atmosfer tebal untuk menjaga pasokan air yang menjadi kunci utama dan media kehidupan," ungkap John Grunsfeld, astronot NASA, Daily Mail (07/11).

Berdasarkan data Maven, badai matahari mengikis atmosfer Mars dengan intensitas 100 gram per detiknya. Sehingga, Dave Brain selaku ilmuwan pengelola Maven mengatakan bila planet tetangga Bumi itu bisa kehilangan atmosfernya beberapa miliar tahun lagi.

Pesawat luar angkasa Maven sendiri diluncurkan oleh NASA tahun 2013 lalu dan mulai beroperasi bulan September 2014. Maven bertugas menganalisis atmosfer planet Mars menggunakan 8 sensor canggih yang diharapkan bisa memberikan data untuk membantu manusia meluncurkan misi-misi ke Mars, termasuk kolonisasi Mars